jarak

 

membentang lautan,

merentang waktu,

membentur bisu,

terasing dalam ruang,

bagaimana menurutmu seandainya aku

memelukmu dari seberang?

#2 dunia perulangan, januari 2009


kau, ekstase…!!

/1/
dunia pelan itu benar-benar berat untuk ditinggalkan
aku sudah melampauinya, tetapi tak setuntas memikirkannya

kau tahu?
terjal jejalan kini bukan lagi batu atau ranting kayu
sebab itu, tanah dan semak enggan menyimpan luka
kau akan menebak, aku terpaksa menyimpannya sendiri di balik dada

di persimpangan sana, aku biasa menepi ke kiri,
lalu jalan terus tak peduli tanda
itu dulu!

aku telah kembali
atau, sebenarnya aku sedang ingin kembali
kepada yang tak pernah kusambangi
atau kepada luka menganga yang dulu selalu kau usapi

* * *

/2/
hujan,
aku selalu mengingatnya ketika dia mulai menggelincirkan roda waktu

mekanis, aku bilang

tetapi tak sesederhana itu,
sebab tubuh memiliki ekstase-nya sendiri pada bau tanah yang khas sehabis hujan, atau selagi masih rintik

tahun-tahun pun mulai berhitung sendiri berurutan ke belakang

dan aku mulai menciuminya, merasakannya
seolah itu kau yang membungkusku dengan hatimu

ah, jarak membuatku ingin memelukmu
kau tinta, aku pena
dunia ini selembar media tak bernama

pantas saja kita selalu ingin menggugatnya!

dan aku masih tak terima,
kau?


elegi lempuyangan

dari ruang senggang halaman gedung perseroan,
tak pulas, sebab kami tak malas

lempuyangan!
dari sini, kami awali hari

cahaya mendorong memaksa.pagi,
merangkai fragmen hidup yang patah
penuh petuah

dari sebungkus suara bimbang,
decak tutup botol dan kalengan,

sengaja kami satukan!
jika tak sumbang,

;hari ini bisa makan

(dok. Lempuyangan, March 12 2007)


keputusan 2

selamat tinggal, kukatakan, meski tak ingin bergegas. sebab kukejar kereta waktu yang tak menunggu.

sampai jumpa, seandainya sore meluangkan waktu. untuk kau, dan aku

banjarnegara, 3 Mei 2010 ~(dok.des 15 09)
osephe hw


keputusan 1

keputusan

…pergi dari rumah sebagai anak panah terakhir, lantas berarti harus menemukan sendiri batu pengasah, di antara ribuan batu tak berbelah. sebab jika sampai hidup layak pekir, ketajaman kata hanya pada maknanya…


sampai tetes-tetes keringat…

Continue reading

NOL koma

waktu, materi, kapasitas, determinasi, integritas, presisi, akselerasi, akurasi… NOL koma !!!!!!!!!


belum punya judul 3

di pojok, kamar wc yang tak cukup menampung dua orang sekaligus, sepertinya sarat inspirasi. seseorang berjalan keluar dengan bibir membelah wajah, lebih lebar dari sebelumnya. apakah ia baru saja tertawa-tawa, atau bercengkerama di dalam sana? entah. cepat langkahnya tak sampai menjelaskannya. kesan tergesa, sedikit m…embuatku menduga-duga, “ia tak ingin menunda.”


belum punya judul 2

di kota kecil di balik sebuah bukit, setumpuk permasalahan masih tak mudah dipecahkan. ketika berjalan keluar dari sebuah kantor sipil, ribuan kepala masih belum sadar penglihatannya tertinggal di laci meja, atau di saku kirinya, atau barangkali mereka lupa telah melipatnya di antara kerutan wajah sejak pagi. malam pekat, ribuan kepala menggeletak. kota kecil terjaga sendiri, “tak sepasang mata pun memandangku.”


belum punya judul 1

ada yang tak beranjak dari perasaannya. ada yang bergegas karena penderitaannya. di sebuah kantor di sudut kota, seorang tua mondar mandir dengan bahu sedikit terangkat, mulut mengerucut. “sudah senja, waktunya pulang.” Tuesday at 8:27pm


tak perlu tuhan

 ”ah, semua jadi ngawur…! ini pasti gara2 tuhan tak pernah berdoa.”

April 29 at 12:09am


waktu mekanis

sejumlah orang berpikir bahwa tubuh mereka tidak ada

April 27 at 1:27am


false being

so…, to what is a state of being… ? sebagian besar hidup telah kita serahkan pada uang…)&*%^wha’$)()*^T^$^@f**k(*is&*_)it…..

April 19 at 10:42pm


KOYO PITIK…!!!!!

nothol…entek…golek…nemu…nothol…entek…golek…nemu…nothol…, entek meneh…golek meneh…nemu meneh…nothol meneh…, sa’teruse…, JOSS…. gandhos…, sa’teruse ngono… Intine, mesti nemune… asal ora mung ndomble cawetan ro kemulan sarung…

April 18 at 6:13pm


elegi sederet nama

seisi tanah air ini, katanya kaya sumber daya (entah sumber daya apa…,). pokoknya kaya! ~ hanya saja…, penghuninya selalu mengatakan tak punya, atau, punya tapi belum cukup berdaya guna.

juga para pemimpinnya, para wakilnya, bahkan yang katanya mewakili jelata…, kadangkala mengatakan di kantongnya tak ada apa2nya. ketika tanah2 telah retak, jembatan tak lagi bisa dipercaya penyeberangnya, pohon2 dan dedaun di kanan kiri berpesta CO2 semampunya, warna langit pun akhirnya termasuk fenomena…,

dan hujan turun…, menimpa kita sudah berupa batu cadas, bongkahan tanah bercampur pasir, debu menyelinap ke mata serasa kerikil, tanaman jagung, padi dan ketela tak lagi mengejar cahaya, tetapi menghujam menuju pusat magma…,

satu…dua…, sebagian jiwa kita tertimbun di sana. ada yang hanyut ke hilir belantara, entah berakhir di mana…

dan ternyata, kita tetap sama, penghuni yang tak menyukai apalagi peduli hari celaka. pemimpinnya, wakilnya, dan semuanya saja, membalik punggung tanpa menepuknya sekalipun.

justru setiap peristiwa, ternyata, tak lain dompet bersama. tapi sungguh…! tak terlihat angka di sana. hanya saja, kalau kita mau merasa…, beberapa nama ada di sana, menggantikan nominalnya.

tak perlu kita baca itu siapa saja; hanya perlu kita membatin nama kita sendiri sepertinya…, sekali saja!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.