kukira, ada yang seenaknya menggonta-ganti
warna langit di cakrawala itu
sebentar biru, sekilas putih,
lalu hitam mengkelam
abu mengganggu
kuning-emas melintas
jingga tak lekas
tak pernah selesai menyadari pesan itu,
sudah kuterendam di riak malam ;
derik serangga, desis melata, dengkur
anjing penjaga, beku udara, resah dedaun,
gelisah angin menepuk punggung awan,
menyulut reaksi gumpal embun di atas sana,
percik air jadi debur di kejauhan,
ditempa tik-tak butir-butir yang lalu
mengalir, menggulir, memelintir hidup
yang layak pekir
; kepenuhan rasa yang sulit kutemukan istilahnya selain,
“patah”
dan batu diam,
kawan perjalanan tak tertandingi,
sejak menyadari ada kucur darah di
ujung kuku
dan perjalanan, bukan tak sengaja
muncul begitu saja,
- semata-mata jawaban aku ada –
tetapi ketulusan membuat mata terbuka
; warna beraneka, tak sebab ada yang dengan seenaknya,
kalau aku berhak melukis setiap
peristiwa, mengapa harus
curiga kepada-nya (baca: Nya)
Maret 31st, 2010 at 12:59 PM
bgussssss nggggeeeeetttt
Maret 31st, 2010 at 4:21 PM
melly siapa ne?
Maret 29th, 2011 at 5:30 PM
sandal melly