seisi tanah air ini, katanya kaya sumber daya (entah sumber daya apa…,). pokoknya kaya! ~ hanya saja…, penghuninya selalu mengatakan tak punya, atau, punya tapi belum cukup berdaya guna.
juga para pemimpinnya, para wakilnya, bahkan yang katanya mewakili jelata…, kadangkala mengatakan di kantongnya tak ada apa2nya. ketika tanah2 telah retak, jembatan tak lagi bisa dipercaya penyeberangnya, pohon2 dan dedaun di kanan kiri berpesta CO2 semampunya, warna langit pun akhirnya termasuk fenomena…,
dan hujan turun…, menimpa kita sudah berupa batu cadas, bongkahan tanah bercampur pasir, debu menyelinap ke mata serasa kerikil, tanaman jagung, padi dan ketela tak lagi mengejar cahaya, tetapi menghujam menuju pusat magma…,
satu…dua…, sebagian jiwa kita tertimbun di sana. ada yang hanyut ke hilir belantara, entah berakhir di mana…
dan ternyata, kita tetap sama, penghuni yang tak menyukai apalagi peduli hari celaka. pemimpinnya, wakilnya, dan semuanya saja, membalik punggung tanpa menepuknya sekalipun.
justru setiap peristiwa, ternyata, tak lain dompet bersama. tapi sungguh…! tak terlihat angka di sana. hanya saja, kalau kita mau merasa…, beberapa nama ada di sana, menggantikan nominalnya.
tak perlu kita baca itu siapa saja; hanya perlu kita membatin nama kita sendiri sepertinya…, sekali saja!
