elegi sederet nama

seisi tanah air ini, katanya kaya sumber daya (entah sumber daya apa…,). pokoknya kaya! ~ hanya saja…, penghuninya selalu mengatakan tak punya, atau, punya tapi belum cukup berdaya guna.

juga para pemimpinnya, para wakilnya, bahkan yang katanya mewakili jelata…, kadangkala mengatakan di kantongnya tak ada apa2nya. ketika tanah2 telah retak, jembatan tak lagi bisa dipercaya penyeberangnya, pohon2 dan dedaun di kanan kiri berpesta CO2 semampunya, warna langit pun akhirnya termasuk fenomena…,

dan hujan turun…, menimpa kita sudah berupa batu cadas, bongkahan tanah bercampur pasir, debu menyelinap ke mata serasa kerikil, tanaman jagung, padi dan ketela tak lagi mengejar cahaya, tetapi menghujam menuju pusat magma…,

satu…dua…, sebagian jiwa kita tertimbun di sana. ada yang hanyut ke hilir belantara, entah berakhir di mana…

dan ternyata, kita tetap sama, penghuni yang tak menyukai apalagi peduli hari celaka. pemimpinnya, wakilnya, dan semuanya saja, membalik punggung tanpa menepuknya sekalipun.

justru setiap peristiwa, ternyata, tak lain dompet bersama. tapi sungguh…! tak terlihat angka di sana. hanya saja, kalau kita mau merasa…, beberapa nama ada di sana, menggantikan nominalnya.

tak perlu kita baca itu siapa saja; hanya perlu kita membatin nama kita sendiri sepertinya…, sekali saja!


kau dan aku

senja murung,
kumandang adzan tak segenting
biasanya,
reda angin sisakan gigil

siapa aku di hadapanmu?
180 jam, perjalanan sebatas rasa,
pusaran pena terlepas dari kalbu,
dari selembar koran, kugagal menyapamu

ditingkah,
bertabuh,
tertampar, coretan hanya seperti bisik suara,
takkan sampai menjadi nada

lantas, apa guna tertawamu pecahkan
batu pijakanku?
tanahku kotoran yang berhasil kujadikan sawah,
sebab kutahu kau mantra penciptaanku


dunia celaka

sekumpulan miskin mengelilingi meja
yang polos,
tak ada gambar di atasnya,
kecuali bayangan tentang kekayaan

sekumpulan kaya berkeliling di meja perjamuan,
penuh luka hatinya,
menghela, sebiji nasi telah hilang tercuri
kemana, kambing hitam dicari

sekumpulan ulama bergerilya,
tak kalah pemuka dan tokoh bicara,
celaka!
dunia telah tamat sebelum kiamat

sekumpulan anak kecil bermain
di tanah lapang,
sisa girang luangkan rasa terkenang,
aku sekedar ingin berada di dalam

barangkali kita manusia,
sial!
kebenaran tak beranjak dari meja kita,
mengendap, sampai terlupa


kau percaya?

kepercayaanku padamu takkan lebih berguna
dari pada kepercayaanmu pada dirimu


memar

memar, seluruh daging dan tulang
tercecar

tinggal hati yang gentar,
sial benar

uang bertebaran seperti kertas buram
harga tak lagi ada padanya
sedang luka tak terbiaya

memar,
aku datang, kau berkelakar


tak perlu curiga

kukira, ada yang seenaknya menggonta-ganti
warna langit di cakrawala itu

sebentar biru, sekilas putih,
lalu hitam mengkelam
abu mengganggu
kuning-emas melintas
jingga tak lekas

tak pernah selesai menyadari pesan itu,
sudah kuterendam di riak malam ;
derik serangga, desis melata, dengkur
anjing penjaga, beku udara, resah dedaun,

gelisah angin menepuk punggung awan,
menyulut reaksi gumpal embun di atas sana,

percik air jadi debur di kejauhan,
ditempa tik-tak butir-butir yang lalu
mengalir, menggulir, memelintir hidup
yang layak pekir

; kepenuhan rasa yang sulit kutemukan istilahnya selain,
“patah”

dan batu diam,
kawan perjalanan tak tertandingi,
sejak menyadari ada kucur darah di
ujung kuku

dan perjalanan, bukan tak sengaja
muncul begitu saja,
- semata-mata jawaban aku ada –

tetapi ketulusan membuat mata terbuka
; warna beraneka, tak sebab ada yang dengan seenaknya,

kalau aku berhak melukis setiap
peristiwa, mengapa harus
curiga kepada-nya (baca: Nya)


sebelum pintu pegadaian

malumu, kupungut seolah peluh yang
cecer dari kerja-kerasmu

dari halaman itu, kusimpan retak
nasibmu
sebab telah mewakili nostalgia-ku,
sejak menyadari kutelah berada di pintu
pegadaian

dengan segenggam relung yang kian penuh membungkus masa lalu,
menunggu lelang, atau perubahan?


melawan sepi

melawan sepi

melawan sepi


kau bukan monyet

tak kuberi kau bunga,
sebab kau bukan monyet

ketika jejalan berbunga debu,
sebaiknya tak kau usap
sebab apa yang melekat di tubuhmu,
serupa benih di lahan gambut

tumbuh,
tumbuhlah
kau bukan monyet
yang hanya bisa melempar bunga lalu pergi


cikal

aku cikal,
menapak jejalan mengais bekal

serak bebatu tak habis kutilas
biar, kutikam cadasmu seolah kau saksi utama

aku cikal,
bakal yang tak puas menjadi


malam yang nostalgic

pada dinding remang tersandar aku,
pada lantai pekat terbaring saudaraku,
malam-malam menggantung potret yang silam

terkesiap aku,
wajah-wajah tertawa riang
selembar kenang kembali kelam


jarak

membentang lautan,

merentang waktu,

membentur bisu,

terasing dalam ruang,

bagaimana menurutmu seandainya aku

memelukmu dari seberang

kulon progo, januari 2009


menembus batas

memandang matamu,

seperti mencari cermin di antara palung

bening air

ingin tenggelam,

sekedar menemukan siapa diriku mencoba

meraihmu dari jarak yang menyesak

yogyakarta, januari 2009


ngga’ pake judul…

pagi melemparku ke tengah hari

terik ini cukup nyala untuk jadi bara di balik dada, katanya

tetapi mata telah lebih dulu terbakar, dan gagal menakar seberapa beruntung diriku ketika senja menghampiri

atau, malam akan lebih dulu menghabisi sisa-sisa usia

- maret 2009 -


membaca

….ketika,

membaca waktu

membaca zaman

membaca sejarah

….masa depan?

kau baca kucela

kubaca kau jera

cerita kita kisah yang patah

fragmen kita penuh petuah

 

menulis buku; jadi bacaan

membaca buku; ada tulisan,

juga tanda tangan beserta cap jempol kanan

semua kau baca,

semua kubaca,

perjalanan adalah goresan

perhentian sekedar tanda

dengan langkah kau mengeja

tak ada langkah kuterbata

 

adakah yang tak kasat mata?

ketika aku-kau buta

mata pejam hati kelam

matahari temaram

bulan remang

langit cengang

tanah petang

di mana ada ruang,

petualang membaca dalam permenungan

 

membaca tubuh

membaca gerak

membaca mata

membaca tanda

membaca tak perlu dikata

boleh disimpan dalam dada

hari ini penuh makna

besok siap jadi kuda-kuda

kalau tiba-tiba ditantang berlomba

 

jangan lupa apa yang telah kau baca;

itu adalah senjata

2008

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.