Saputangan Kenangan

hari bahagia itu pernah absen dari keseharianmu,
maka aku ingin membagi milikku untukmu

seperti sepuluh tahun lalu,
tentu kau ingat saat kuberikan saputangan biru
lengkap dengan bordiran namamu di salah satu sudutnya

aku memesannya dari seorang penjahit sekaligus tukang bordir
-yang tak kukenal- di sudut jalan kenangan

kau tersenyum, aku mengingatnya!
tetapi kau bilang; saputangan di antara lelaki dan perempuan,
serupa tanda akan ada perpisahan

giliranku tersenyum, aku tak peduli!
yang kuingat; kau selalu mengusapkannya pada kedua matamu,
sebelum genangan demi genangan tumpah menghanyutkan bahagiamu

setelah lebih dari sepuluh tahun -katamu-
kini saputangan itu hilang,

dan mungkin kau akan bertanya;
apakah hari bahagia itu kemudian akan benar-benar lenyap?
kau akan memesan lagi saputangan serupa untukku?

kukira tidak, kau tidak lagi memerlukannya
-bukan karena sebagai tanda akan ada perpisahan-
kau pernah benar-benar membiarkan matamu mengering

kau menumpahkannya untuk mengisi hari sedihku, bukan?
kukira hari bahagia kita sama-sama pernah absen

dan saputangan itu tidak pernah hilang seperti kau bilang
aku menyimpannya bersama genangan air matamu di ceruk-hatiku terdalam
agar aku tetap bisa membagi milikku untukmu -dan untuknya!

-yang kupunya (bukan yang tersisa) untuk hari-harimu- Yogya, 26 Mei 2014

Iklan

bayiku ta’ tinggal nutu ditunggoni asu

simbah buyute anakku wis tuwoo, ora ngerti babagan ngurus anak sing koyo dikarepke wong2 enom. nanging bab pengalaman urip lan sesimahan mestine ora iso dipaido. buktine, tekan saiqi yo ono aku ro bojoku iki. mbahne anakku yo iseh sugeng, bukti yen carane mbah buyut sak elek2’e le ngrumat anak tetepo kasil.

weruh buyute nongas-nangis, mbah buyut kumau kerep wae ngomel, “mbok iyoo ndang disusoni”.

aku ro bojoku ngiro nek bayi nangis kwi ora mergo ngelak po ngelih, iso ugo mergo kepanasen po pengen turu. lhaa nek disusoni terus mengko iso muntah2, mesakne nek weruh banyu susune metu seko irung, megab2!

“yo penting disusoni, ben meneng. ora nangis wae,” jare mbah buyut kumau. 

awan2 lungguh neng ngarepan omah, mbah buyut e anakku muna-muni meneh.

“zamanku mbiyen, duwe anak le ngrumat yo mung sak’anane. nangingn ora popo, pancen onone mung jenang jagung, telo, ro godhong2an penting iso dipangan. nek lagi panen, bayiku ta tinggal nutu, bocahe kleleran neng plataran ditunggoni asu,” omonge mbah buyut kumau.

“ehmmm…, iyoo, mbah,” wangsulanku.

bedo zaman pancen bedo kekarepan. nanging kabeh kwi ora ono salahe. aku yo ora maido lhoo, mbah… mung aku ro bojoku kwi yo bocah enom sing mbutuhke pitulungan lan wejangan.

“ora njaluk diseneni, mbah. mergo bocah enom kwi pingine diregani. mung seko rego, ora awujud barang utowo materi nanging piwulang ben njajal nglakoni dewe ora didikte, suwe2 mesti isoo!”

“sore2 yo grenengan meneh yo oleh, mbah… hahahaha.”


elegi sederet nama

seisi tanah air ini, katanya kaya sumber daya (entah sumber daya apa…,).

pokoknya kaya! ~ hanya saja…, penghuninya selalu mengatakan tak punya,

atau, punya tapi belum cukup berdaya guna.

juga para pemimpinnya, para wakilnya, bahkan yang katanya mewakili jelata…,

kadangkala mengatakan di kantongnya tak ada apa2nya.

ketika tanah2 telah retak, jembatan tak lagi bisa dipercaya penyeberangnya, pohon2

dan dedaun di kanan kiri berpesta CO2 semampunya, warna langit pun akhirnya termasuk

fenomena…,

dan hujan turun…, menimpa kita sudah berupa batu cadas, bongkahan tanah bercampur

pasir, debu menyelinap ke mata serasa kerikil,

tanaman jagung, padi dan ketela tak lagi mengejar cahaya, tetapi menghujam menuju

pusat magma…,

satu…dua…, sebagian jiwa kita tertimbun di sana, ada yang hanyut ke hilir

belantara. entah berakhir di mana…

dan ternyata, kita tetap sama, penghuni yang tak menyukai apalagi peduli hari celaka.

pemimpinnya, wakilnya, dan semuanya saja, membalik punggung tanpa menepuknya

sekalipun.

justru setiap peristiwa, ternyata, tak lain dompet bersama. tapi sungguh…! tak

terlihat angka di sana. hanya saja, kalau kita mau merasa…, beberapa nama ada di

sana, menggantikan nominalnya.

tak perlu kita baca itu siapa saja; hanya perlu kita membatin nama kita sendiri sepertinya…,

sekali saja!

*(edisi fb:https://www.facebook.com/notes/osep-yo/elegi-sederet-nama/377786790946 )


bertemu lagi, semoga bisa selalu update

bertemu lagi

setelah sekian lama, kita bertemua lagi seperti sahabat lama saling berjauhan

kini kumulai dengan menyapa lewat tulisan pembuka 

meski tak berarti apa-apa, kuharap ada sedikit makna

bukankah pertemuan selalu menginspirasi, jika bukan pelepas rindu?

 

paling tidak, kita bisa saling memaksa diri memulai hal baru

aku telah lama kehilangan daya, rasa percaya, kemampuan bicara, dan terpenting bercerita

kapan bisa kumulai lagi?

hanya ketika kita mau, dan memulai meski dalam kondisi disorientasi 

 

tapi aku katakan, mulai saat ini akan ada ribuan kata dan makna menyelimuti keseharian yang tampak sekadar berputar dan berhenti di jalanan….

 

salam, sampai ketemu pada simpang kata berikutnya……


fragmen: menertawai diri

perjalanan pulang Semarang – Jogja menelan waktu hampir dua minggu,
toh tak lekas sampai pula
ah…, aku yakin keberangkatanku dahulu tak selama ini

sejarah,
selalu membuatku berpikir panjang soal masa depan

tetapi mengingat kali pertama mengenakan celana panjang membungkus
bulu-bulu kaki telanjang,
terasa amat menggelikan…,
itu juga kekanak-kanakan bernama “kenang”

semoga rentang ini adalah kematangan
hari ini pasti akan menggelikan di waktu nanti


jarak

 

membentang lautan,

merentang waktu,

membentur bisu,

terasing dalam ruang,

bagaimana menurutmu seandainya aku

memelukmu dari seberang?

#2 dunia perulangan, januari 2009


kau, ekstase…!!

/1/
dunia pelan itu benar-benar berat untuk ditinggalkan
aku sudah melampauinya, tetapi tak setuntas memikirkannya

kau tahu?
terjal jejalan kini bukan lagi batu atau ranting kayu
sebab itu, tanah dan semak enggan menyimpan luka
kau akan menebak, aku terpaksa menyimpannya sendiri di balik dada

di persimpangan sana, aku biasa menepi ke kiri,
lalu jalan terus tak peduli tanda
itu dulu!

aku telah kembali
atau, sebenarnya aku sedang ingin kembali
kepada yang tak pernah kusambangi
atau kepada luka menganga yang dulu selalu kau usapi

* * *

/2/
hujan,
aku selalu mengingatnya ketika dia mulai menggelincirkan roda waktu

mekanis, aku bilang

tetapi tak sesederhana itu,
sebab tubuh memiliki ekstase-nya sendiri pada bau tanah yang khas sehabis hujan, atau selagi masih rintik

tahun-tahun pun mulai berhitung sendiri berurutan ke belakang

dan aku mulai menciuminya, merasakannya
seolah itu kau yang membungkusku dengan hatimu

ah, jarak membuatku ingin memelukmu
kau tinta, aku pena
dunia ini selembar media tak bernama

pantas saja kita selalu ingin menggugatnya!

dan aku masih tak terima,
kau?


%d blogger menyukai ini: